I use logic
to maintain my faith in GOD.

It works. All the time.



Originally posted in Sept 2019. Date was modified for the sake of blog visual (being on top of the featured posts)

Antara OrdeBaru dgn Para Haters


[Catatan] Tulisan ini tersimpan di draft sejak 3 September 2020. Nulis ini sebagai balasan komen netijen yg gagal paham masalah orba vs g30s.


Dear Netijen Yth yg menganggap Yth Bapak Suharto adalah segalanya & orde baru adalah masa emas Indonesia, saya cuma mau bilang, orang membenci (kepemimpinan) Suharto ada alasannya. Mungkin anda masih terlalu kecil/polos/awam saat itu, atau mungkin anda kecipratan hidup enak di jaman itu berkat ikutan KKN (minimal secara tidak langsung) di circle Bapak satu itu. Mungkin juga anda ada di pihak swasta/bumn yg terlalu sibuk utk melihat keadaan orang lain atau sekedar ngikutin berita..


[“Breaking Song”] Song of the day: BENTO (Iwan Fals)

Tahukah Anda, menurut legenda, Bento = BIN suharTO [putra(2) Suharto]. Tanya Kenapa!!
.


Saya cuma bisa bicara sebagai kuping&mata kecil saksi sejarah: kedua ortu gw PNS kementrian pusat jaman orba, dan bukan level dasar, tapi untuk punya rumah sederhana di pinggiran ibukota (baca: luar ibukota), masih harus mengandalkan warisan ortu. (Padahal sudah patungan kan). Tanya kenapa?


Logikanya tuh gini: kalau seandainya Suharto adalah pemimpin yg dgn aduhai telah memimpin negeri ini menjadi negeri yg adil makmur aman sentosa, kenapa pegawai negeri di jaman itu gak ada yg makmur merona, kecuali kalau mereka nakal, atau punya sumber penghasilan lain (mega-warisan dsb)? Sementara anda tahu sendiri sang Bapak Pembangunan, keluarga, dan konconya  tajir melintir, uang gak berseri.. pada jadi sultan, akibat KKN (kolusi korupsi nepotisme) tak berseri. Tajir tanpa malu berkat sibuk ekploitasi (baca: ngerampok) kekayaan bangsa sendiri. Freeport cuma salah satu contoh aja. Dimana letak kepemimpinan adil sejahtera nya beliau? Dimana kemakmuran utk rakyat? Sibuk bangun ini bangun itu. Sibuk bangun image (iya,  beliau adalah pelaku penciteraan yg sangat sukses) sampai lupa ngurus ujung tombaknya sendiri (pegawai pemerintah). Mungkin karena pegawai yg lupa diurus ini enggan jilat2 p*nt*t sang presiden yth & konconya hanya demi kenikmatan dunia.
Jaman ortu gw masih aktif kerja, mereka  seringkali dikritik kenalan  karena mereka “terlalu lurus, belok2 sedikit kan gapapa” / “Kalau buat keluarga kan gapapa” dll dsb. Alhamdulillah–segala puji bagi Tuhan, ortu gak kepengaruh dan tetap memegang prinsip.

Pemerintah sekarang mungkin masih banyak kurangnya, tp paling gak sudah menuju ke arah yg lebih baik. PNS sekarang bisa sejahtera walau hanya ngandelin kerja bersih (sesuatu yg mustahil di jaman orba, mungkin kecuali PNS DKI yang dari dulu memang sudah makmur), ini adalah kemajuan besar! Anda pikir mudah, kerja dengan baik waktu mata/ego lapar karena kebutuhan anak mengantri? Sementara godaan dan hasutan datang dari segala penjuru, seringkali dari rekan kerja & kerabat sendiri.

Intinya gw bukan pembela fanatik Sukarno ataupun Jokowi. Semua presiden kan cuma manusia biasa yg punya kelebihan kekurangan masing2. Gw cuma mau bilang, kalau anda pikir Suharto adalah presiden sempurna paripurna yg tiada cela, jelas anda HALU, saudaraku.

Gw benci orba (dan menyesalkan kepemimpinan Suharto), gw benci ketamakan mayoritas dari mereka. Buat gw orba (termasuk tragedi g30s, krn orba dan g30s adalah satu kesatuan) adalah sejarah  kelam negara kita yg amit-amit jangan sampai terulang. Dulu gw benci presiden nya juga, dan gak bisa dipungkiri terasa berat dulu utk mengangkat rasa tersebut, tapi ya sudahlah, toh beliau sudah berhasil digulingkan rakyat dan gak ada gunanya juga gw bawa2 terus energi negatif tsb. Tapi gw bisa memahami kalau misalnya ada yg masih benci beliau. Gak perlu ada urusannya sama PKI, Bung! Kalau anggota keluarga lo yg tercinta ada yg meninggal atau “mendadak” hilang tanpa kabar cuma krn mereka menyuarakan kritik/kebenaran demi membela/memperjuangkan negeri ini, apa kamu bisa terima hal tsb  dengan mudah? Sudah lupa kisah terbunuhnya alm MUNIR kah? Atau mungkin memang tidak tahu.. dan itu hanya satu contoh saja..

Kalau anda serius peduli dengan negara ini dan bangsanya, Buka Mata Buka Telinga, lupakan fanatisme, belajar melihat sesuatu dengan objektif. Cari tahu! Jangan hanya terima mentah2 omongan “guru2” anda yg anda hormati. Maka,

cepat atau lambat niscaya kebenaran akan kau cerna.

Sekian dan terima kasih. Merdeka! Sebagai penutup:

Baca entri selengkapnya »

[Riblog Tulisan Teman] Biaya semester Murah tapi WAJIB beli buku seharga biaya kuliah!!

[Catatan Mosyi] :: Setuju banget: udah gak ada itu yg namanya “guru adalah dewa, yg gak bisa khilaf ataupun salah“. Jadi manusia harus mau kritis, karena bukankah Tuhan kita Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang selalu dan selalu mengajak kita utk berpikir? Manusia dianugerahi akal & nurani bukan untuk dijadikan reliku museum, tapi untuk dimanfaatkan: demi kepentingan pribadi & khalayak umum.

LiFe is jOuRneY...

Barusan kakak gw cerita sambil nangis-nangis. Katanya dy tidak boleh masuk salah satu kelas kuliahnya jika tidak punya buku2 yang disyaratkan dosennya. Perihalnya itu buku2 harganya hampir sama dengan biaya satu semester kuliahnya.
Awalnya, kakak gw (cewek) yang sudah berkeluarga dan punya dua anak berencana melanjutkan kuliah. Namun dengan biaya terbatas, tidak semua universitas berani dy datangi. Bermodalkan tanya-tanya, akhirnya kakak gw menemukan salah satu universitas swasta dengan biaya semester yang rendah. Universitas di bilangan jakarta timur. Kakak gw mengambil kelas ekstensi agar kuliahnya dapat disambi dengan kerjaan lain.

Setahun dua tahun kakak gw kuliah, ada saja cerita perjuangannya dengan kawan-kawannya berkaitan dengan dosennya. Pernah satu angkatannya melaporkan dosen PA (Pembimbing Akademik) ke bagian akademik karena dosen itu susah ditemui padahal waktu penandatanganan IRS sudah mencapai batasnya. Bahkan si dosen sudah berkali-kali memberi harapan palsu kepada mahasiswanya. Tapi yang didapat dari pelaporan tersebut adalah nihil. Para mahasiswa dilempar kesana kemari…

Lihat pos aslinya 519 kata lagi

SoTD: Melodies of Life (Layers of Harmony)

Nobuo Uematsu, Ciomi ~ FFIX (cover by Gikgig)

Lets sing along! Nyanyi yuks!

Baca entri selengkapnya »

Dear Ibu Atalia Praratya

{ sebenarnya belum selesai. Nanti ini bakal dirapiin lagi postingannya (wacananya itu, pingin posting dalam bentuk audio ((sudah rekaman, tp belum sempat edit2 hix)) ). #BelajarMembuangObsesiPerfeksionisYgTidakPadaTempatnya }



Cuma ingin merekam di blog ini, komen (berupa opini) yg saya tulis utk Ibu Atalia Praratya, atau Ibu yg tersohor sebagai “Ibu Cinta” bagi rakyat Jabar💚.



😍Dear Yth Ibu Atalia Praratya @ataliapr, mumpung postingan ini belum ratusan komennnya, saya mau menyampaikan opini:

Semoga sampai kapanpun Ibu akan terus menamakan diri sebagai Ibu “Atalia Praratya”, gak kebawa arus, terus jadi “Atalia Kamil” apalagi “Atalia Ridwan Kamil”😢.

Se-ngefans apapun saya ama kang Emil @ridwankamil (wkt sebelum jadi walikota dulu saya sempat SKSD ke beliau mendadak curhat krn kuliah berantakan eh terus dibalas masa🥺 Terharunya waktu itu tak terkatakan {sampai di-screenshot & dijadikan wallpaper di laptop hingga akhirnya banyak purnama kemudian berhasil wisuda🥺}). Intinya sy ngefans banget sama beliau (sbg arsitek yg kreatif&berbudaya, pemimpin yg mengayomi, hingga (bersama Ibu) sbg pribadi yg adem & apa adanya), tapi bukankah kita sebagai perempuan adalah satu pribadi yg utuh? Knp setelah menikah harus mengganti nama/sebutan dgn nama suami? Indonesia (dan Asia pada umumnya) gak punya budaya begini, dan di agama pun gak ada ajaran nya. Kalau di bangsa yg punya  budaya tsb saja, hal ini udah mulai ditinggalkan krn dianggap merendahkan perempuan, kenapa kita harus mengadopsi budaya (super) kolot macam ini? Wujud cinta ke suami kan gak perlu seperti itu ya Bu? Pokoknya I ❤️ u full, ‘saranghamnida‘ utk Ibu. Thanks for being you❤️. Semoga Allah SWT selalu melindungi Ibu & keluarga dgn rahmat & hidayah NYA yg begitu agung❤️

[[ waduh, maafkan pembaca yth sekalian, eke lupa nyalin paragraf kedua ternyatah! (Yaelah mosyiii, mo komen postingan IG orang apa mo bikin cerpencerbung sig igh. Udah paragrafnya panjang bener. “Singkat kata”, ini eke screenshot aja yaa para ke-2nya. Harap maklum👻 ]]

Cat: Komen ini sebenarnya dari awal direncanakan di-posting dalam versi audionya, jadi nanti kalau sy udah selesai edit sunting rekaman, postingan ini bakal di-update sama si audio. (gak bikin postingan baru. Karena di sini dilarang nyampah. Dikira si mosyi di sini Pluruk? Lha terus, emangnya detik ini lo gak lagi nyampah mosyiii. Ewewew #abaikan)

Song of the Day

{ If you love me.. by Yoon Geon }


Related Posts: #MenjadiMahasiswaArs


Ikhlas Merelakanmu.

(berdamai dgn obsesi ngarsitek.)

Sebenarnya udah sekitar 6 tahunan terakhir ini, alhamdulillahirobbil’alamin–segala puji bagi Tuhan Seluruh Alam– saya (akhirnya) berhasil mengikhlaskan/berdamai dengan kasih saya yang tak sampai pada dunia arsitektur sebagai karir. Lalu kebetulan, pekan kemarin berkesempatan ikut kuliah umum dari salah satu dosen favorit di kampus dulu: Bapak Ir. Sonny Sutanto, M.Arch., IAI. Senang. Hehe. Alhamdulillah–segala puji bagi Tuhan YME.

Yah, intinya cuma ingin merekam di sini pesan yg saya tinggalkan di IG post Pak Sonny  (dalam bentuk audio), paska menyimak kuliah umumnya utk program profesi arsitek ITS, tertanggal 9 September 2021 kemarin #BerkahDiTengahPandemi ::

▶️ https://soundcloud.app.goo.gl/xD6VJ


Mumpung lagi ngomongin ini, sekalian kali ya, bikin surat perpisahan.. ⬇️

Merelakanmu.

Dear Ars. Kamu memang bukan cinta pertama aku, tapi sejak kita diperkenalkan pada semester ajaran baru tahun 2004 belasan tahun lalu itu, sejak aku memakai seragam kaos lengan panjang biru tua, celana hitam, dan slayer ungu, aku jatuh cinta. Tiap hari yang ku lalui bersamamu membuat ku makin cinta. Begitu cinta, seolah aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.

Delapan belas bulan kita lalui bersama, banyak keringat dan  terik matahari, namun tak sekalipun kurasa duka. Aku sangat suka bersamamu. Walau bukan sedikit rekan² seperjuangan yang mengeluhkanmu, atau meragukanmu sebagai jalan hidup mereka, aku selalu suka dan yakin padamu, apa adanya kamu. Tak pernah sebelumnya ku merasakan hari-hari yang demikian indah & bersemangatnya, dari matahari terbit hingga terbit lagi keesokan harinya, dalam hidupku sebelumnya. Aku bagai berjodoh dengan apa yang selama ini raga & jiwa ku cari di alam bawah sadarku. Aku tau aku bukan pejuangmu yg terbaik, jauh. Tapi aku berusaha sekeras yang ku mampu saat itu, karenanya tak pernah sekalipun kuragukan cinta & penerimaan mu terhadap ku.

Lalu tiba penghujung semester tiga. Lama setelah presentasi akhir berakhir, tepat sebelum memasuki masa berlibur. Yang aku tahu saat itu, aku hanya perlu berusaha untuk lebih dan lebih keras lagi, walaupun setelah turut mendapat pembantaian masal di sidang perancangan pertamaku itu, karena ku tahu aku “hanya” belum juga mampu mendisiplinkan diri, memaksimalkan segenap potensi yg ku(yakini)punya. Namun “hal” itu pun terjadi beberapa hari setelah sidang itu, setelah ku selesaikan semua prosesi kuliah. Aku tercenung. Tanpa kusadari menggores luka di lubuk terdalam ku: Apakah sebegitu tak adanya aku di matamu? Apakah sebegitu tak berartinya aku bagi diri mu? Apakah keyakinan ku selama ini kepadamu hanyalah fiksi belaka dan tak ada di dunia nyata? Luka yang ternyata jauh lebih dalam dari apa yang aku sadari pada saat itu. Ini bukan masalah angka. Ini masalah perjuangan ku pribadi.

Semester selanjutnya pelan-pelan aku kehilangan kesadaranku. Tanpa kusadari saat itu, aku merasa terkhianati. Apalagi kau, pasti lebih lagi tak sadari. Lalu tanpa bisa ku-kendalikan, aku tersandung pada kelemahan lamaku, utk kemudian terlarut dalam kemarahan ku pada diriku sendiri.

Kemarahan akan ketidakmampuan ku menaklukkan kelemahan lamaku: mengatur waktu. Kesalahan yang lagi-lagi itu, sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Tentunya, kau tidak punya waktu utk menunggu ku bangkit menemukan ritme ku. Kau menjauh, semakin lama semakin jauh, hingga aku semakin kehabisan nafas dan (memutuskan tuk) merelakanmu, sebelum aku betul-betul kehilangan seluruh nafasku.

Mungkin itu adalah keputusan tersulit dalam hidupku. Karena dirimu telah begitu merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku. Sehingga berulang-kali aku kembali terjerembab dalam lingkaran setan yang sama: ingin kembali memperjuangkan mu, di saat aku tahu, jalan kita sudah berbeda adanya.

Sekian tahun aku bergumul pada lingkaran sesat tersebut, hingga akhirnya, di penghujung dekade kedua dalam kehidupanku, aku pun Tuhan kita anugerahi pencerahan yang begitu indah, hingga akhirnya ku bisa melepaskan mu dengan damai dan penuh rasa syukur.

Dear Ars, mantan terindahku. Jalan kita memang sudah berbeda. Tapi aku tau, kita masih bisa berteman. Bagaimanapun, aku bersyukur pada Tuhan Seluruh Alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena telah memperkenalkan mu padaku. Karena berjalan bersama dengan mu adalah salah satu hal terindah yang pernah aku rasakan. Dan aku bertekad, aku akan menggunakan pengalaman ku selama sebentar kebersamaan kita, untuk memaksimalkan hidupku:  Dengan menerapkan secercah ilmu yang sempat ku dapat dari mu dulu, dan terutama dengan memunculkan kembali gairah & semangat yang ku rasakan, kala kita bersama dulu.

dari

~(mantan) pejuangmu



Tagging:
Bapak Kemas Ridwan, Ibu Herlily, Bapak Hendrajaya Isnaeni, Kakak Ova Chandra Dewi, Bapak Emirhadi Suganda, Ibu Yulia, Bapak Gunawan Tjahjono, Ibu Siti Utamini, Bapak Dita Trisnawan, Bapak Hery Fuad.



Related Posts: #MenjadiMahasiswaArs


#SoTD

Bangga Berbhineka

Agustus ini ingin saya tutup dengan sharing kajiannya bang ustadz Hanan Attaki. Semoga gak ada lagi yg berani memecah-belah Indonesia, apalagi yang berkedok agama!

~

Untuk kajian lengkapnya yukmarii cekiceki >> tautan ini <<
.



Salah satu kekuatan terbesar Indonesia itu adalah keberagaman nya. Jika “Bhineka Tunggal Ika” sudah terpatri di dada, Indonesia pemimpin Asia, bahkan dunia, bukan hanya ada di angan2 belaka. Jayalah Indonesiaku. Merdeka!

{Termakasih Alffy Rev & Team atas karya(2)nya yg begitu indah. Lanjutkan perjuanganmu, Bung!}


Baca entri selengkapnya »

Ketika Tangan dan Kaki Bicara

Tak bisa dipungkiri, terasa sekali ketulusan dari produksi ini: iramanya, liriknya, dan tentu vokalnya. Bening. Menghanyutkan (dalam kebaikan). Sangat terasa sebagai kolaborasi tuntunan Tuhan YME. (Apalagi kalau nyimak proses pembuatannya). Doa terbaik utk almarhum, dan segenap pihak yang terlibat, dan utk semua penyimak. Semoga kita semua berada dalam lindungan & bimbingan Yang Maha Kuasa.

Prasangka

Terkadang manusia merasa berhak menuduh manusia lain telah begini atau adalah begitu, padahal mendengar kisah yg terjadi saja, tidak.

Terkadang manusia merasa berhak untuk menuntut/menekan manusia lain menurunkan/merubah prinsipnya, padahal apa persisnya prinsip tersebut, tahu saja tidak.

Mengapa?

Memang..

Prasangka:

Mudah untuk tergelincir di pikiran,

seringkali lebih baik dibungkam.


TanggungJawab

Harta, Strata, Cinta, dan lainnya, bukanlah rezeki gratis yang bisa dipakai sesuka-hati, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggung-jawabannya kelak.

#hikmahtragediorang

#catatanpribadi

Revolusi Pendidikan

Semoga langkah Menteri Pendidikan Nadiem Makarim meniadakan UN akan menjadi titik awal revolusi pendidikan Indonesia. Pendidikan yang bukan hanya mengedepankan nilai berupa angka, tapi lebih ke penempaan yg melahirkan pribadi-pribadi dengan pola pikir kritis kreatif aplikatif, mental yg kuat, imajinasi tanpa batas, dan yg paling penting kepribadian yg mulia. Menuju Indonesia yang lebih  bermartabat. Aamiin.

Berpikir Kritis

Science, Logic, Religion, Faith, God, Truth,

Gunakan Logika. Buang Arogansi.

“Modernisme”

#TrueStory

« Older entries

%d blogger menyukai ini: