Berpikir Kritis

Science, Logic, Religion, Faith, God, Truth,

Gunakan Logika. Buang Arogansi.

“Modernisme”

#TrueStory

Jalan Keras


Hanya ingin merekam
Postingan seorang rekan di milis angkatan SMA saya,
satu dekade lalu: Danar Permana (sang sesepuh pendiri XMo) ::


Resensi Buku Soe Hok Gie oleh Arief Budiman

(Dapet dari milist tetangga)


Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum
adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan,
sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada
pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan
suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi
pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu
hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya
selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis,
melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang
sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang
yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa
sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan
semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh
kesepian“.

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik
yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina
yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja“. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang“. Terhadap ibu dia cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti“.

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya“.

Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya:

Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian,penderitaan“.

Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: “Ya, saya siap

.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim
bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan
ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini
dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada
tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya
sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu“. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?”
Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati
ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak
terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya
mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya
yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal“.

Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya
dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa
adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: Saya
kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan
sayamencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang
perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau olehseorang tukang peti mati di Malang?

Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang
yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat
dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat
terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping
peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian“. Saya tak
tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu.
Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

–Arief Budiman (Soe Hok Djin)

 


 Catatan Mosyi : Mungkin ini yang disebut orang: “Orang baik disayang ALLAH, dikangenin ALLAH, makanya cepat dipanggil pulang untuk segera dapat bertemu denganNYA”. Dan juga “Makin Saleh seseorang, makin BESAR cobaannya”. Kalau saya melihatnya, Yang Maha Kuasa sudah ridho / puas dengan perjuangannya menjalani UJIAN kehidupan, dan ingin segera mengganjarnya dengan kebaikan abadi yang IA janjikan.

Saya percaya, orang baik, orang jujur, orang bersih, dan orang yang hanya ingin jujur dengan HATI NURANI nya, seperti halnya Yth almarhum Seo Hok Gie ini, sudah lepas dari cobaan duniawi yang begitu keras, dan kini berada di dunia nyata yang indah untuknya. Di sisi Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengasih. Amin Ya RABB.


Orang Dewasa Tidak Adil!

Jangan remehkan anak kecil. Mereka sering kali lebih cerdas dari kita yang sudah dewasa. #catatanpribadi

catatan peradaban

Hari ini saya menegur beberapa murid saya yang melanggar aturan sekolah, yaitu harus memakai sandal atau sepatu ketika bermain atau berada di area play ground. Tak seperti biasanya. Ketika saya minta mereka untuk membaca istighfar karena pelanggaran tersebut, ada salah satu murid saya yang berkaca-kaca, lalu menangis menyendiri. Tiba-tiba ia mendatangi saya dengan muka marah, matanya  memerah, mengeluarkan air mata, tangannya mengepal di samping badan, lalu berkata dengan nada tinggi, “Orang dewasa tidak adil! Mengapa orang dewasa selalu menghukum anak-anak yang melanggar aturan, sementara kalau orang dewasa yang melanggar aturan, mereka tidak diberi hukuman yang sama?!” Saya pun terdiam, kaget mendengar kata-kata tajam meluncur dari murid saya yang satu ini. Ia selama ini saya kenal sebagai anak yang cute, ceria, dan lucu, ternyata bisa semarah ini dan mengeluarkan kalimat yang sangat menohok. Lalu murid saya itu saya ajak ngobrol dan berakhir dengan kesepakatan bahwa orang dewasa yang ada di sekolah juga harus saya minta…

View original post 81 more words

<3

CREATE Your Future!


sumber video: {klik!}

Dream is just a dream unless we go hard.
You can turn fantasy into reality eventhough it can’t be done magically.

ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka merubahnya sendiri

Education is not the learning of facts. It’s rather the training of the mind to think
—Albert Einstein

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world
—Nelson Mandela


Kuliah S1 bukan jalan supaya diterima kerja di kantor orang. Tapi untuk membuka cakrawala sesuai bidang di jurusan yang bersangkutan sehingga jalan untuk kita mengubah dunia lebih mudah terbuka.



Jangan Bergantung pada Sesama

Bergantunglah hanya dan hanya pada Yang Maha Kuasa.
Atau Anda akan kecewa. Cepat atau lambat. Read the rest of this entry »

#SoTM

Esensi “Cobaan” VS “Anugerah”

Ketika kita berhasil ikhlas atas “cobaan” yg kita hadapi, ketika itulah si cobaan mendadak terlihat bagai anugerah.
Ketika kita takut pada Yang Maha Kuasa, ketika itulah limpahan kemudahan dan kekuatan yang kita “miliki”, semuanya mendadak berubah menjadi cobaan yang maha berat.

Semua tergantung mindset.

 


[SUMBER]


				

#FediNurilNikah #Pedih #IndonesiaBerduka

Yakk! Lagelageeditinggalnikahlageee hyakakakks #CobaanPekanIni #RetakHatiAdekBanggUdaaa #SudahBiyasha #BHAY!

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: